Poliklinik Medical Check Up (MCU)

Medical check up adalah pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh. Melalui pemeriksaan ini diharapkan suatu penyakit atau gangguan kesehatan bisa dideteksi sejak dini. Tes ini sekaligus berguna untuk merencanakan metode penanganan dan pengobatan yang tepat sebelum penyakit berkembang. Health screening atau yang biasa disebut Medical Check Up (MCU) adalah pemeriksaan kesehatan yang bertujuan untuk mendeteksi ada atau tidaknya penyakit dalam tubuh atau organ tubuh secara dini. Seseorang yang rutin melakukan MCU memiliki keadaan yang lebih baik untuk hidup sehat & panjang umur. Saat medical check up, pasien akan menjalani sejumlah tahapan pemeriksaan menyeluruh, berupa konsultasi mengenai keluhan yang sedang dirasakan, pencatatan dan pemeriksaan berkaitan dengan riwayat kesehatan, pemeriksaan tanda vital tubuh dan kondisi fisik secara umum.Walau tidak diwajibkan, medical check up telah menjadi pemeriksaan kesehatan rutin. Pasien dapat berkonsultasi kepada dokter kapan saja dan tidak perlu menunggu sampai timbulnya penyakit atau menurunnya kondisi kesehatan. Medical check up secara rutin dapat meningkatkan peluang untuk tetap sehat dan memiliki usia yang lebih panjang.
Medical Check Up penting dilakukan sehubungan dengan berbagai factor diantaranya adalah faktor usia, derajat kesehatan, riwayat penyakit dalam keluarga, pola gaya hidup (pola makan, aktifitas sehari – hari, riwayat merokok, dll) menjadi faktor – faktor penting dalam menentukan kesehatan seseorang, sehingga MCU yang harus dilakukan tergantung dari pada ada atau tidaknya faktor – faktor tersebut.
Dengan melakukan MCU, benefit yang Anda dapatkan antara lain dapat mengetahui kondisi kesehatan Anda saat ini, pencegahan resiko penyakit sedini mungkin, penanganan penyakit sedini mungkin, menghemat biaya pengobatan, meningkatkan kualitas hidup. Rentang waktu yang disarankan untuk melakukan MCU secara rutin adalah 12 bulan dari saat Anda melakukan MCU saat ini. Hal ini dikarenakan kondisi kesehatan dapat berubah dalam jangka waktu tersebut sehingga diperlukan MCU secara rutin dan berkala.

 

Poliklinik Gigi

“Poli gigi adalah layanan seputar kesehatan mulut dan gigi. Mulai dari pemeriksaan kesehatan, pembersihan, pengobatan, hingga tindakan medis lebih lanjut.

Di poli gigi, dokter yang bertugas adalah dokter gigi, yang memiliki keahlian khusus di bidang mulut dan gigi. Dokter gigi yang nantinya akan memberi diagnosis, melakukan penanganan, hingga pencegahan masalah mulut dan gigi.

Tujuan Poli Gigi

Poli Gigi memiliki tujuan untuk memberi pelayanan kesehatan mulut dan gigi. Jadi, kamu bisa datang ke poli gigi saat membutuhkan layanan kesehatan seputar gigi dan mulut. Misalnya, jika mengalami gejala sakit gigi, masalah gusi, gigi bungsu, gigi berlubang, membersihkan karang gigi, serta ingin pasang kawat gigi, atau gigi palsu. Sebenarnya, saat tidak ada keluhan pun, periksa gigi secara rutin tetap penting, baik pada orang dewasa ataupun anak-anak. Orang dewasa dan anak-anak disarankan untuk datang ke poli gigi secara rutin setiap 6 bulan sekali. Pada anak-anak, dimulai dari usia 6-7 bulan saat gigi susu pertama mulai tumbuh, pemeriksaan gigi secara rutin tak kalah penting. Namun, jika kamu mengidap gangguan metabolisme atau penyakit sistemik dan bersiko mengalami penyakit gigi dan mulut, pemeriksaan rutin mungkin perlu lebih sering. Misalnya setiap 3 bulan sekali, atau sesuai instruksi dokter.

Jenis Layanan di Poli Gigi

Berikut ini beberapa jenis layanan yang bisa didapatkan di poli gigi:

  • Tambal gigi. Prosedur untuk mengatasi gigi berlubang atau patah.
  • Scaling. Untuk membersihkan karang gigi.
  • Pencabutan gigi. Untuk mencabut gigi yang bermasalah atau tidak bisa diperbaiki lagi.
  • Perawatan saluran akar. Diperlukan ketika pulpa gigi menjadi sakit atau terinfeksi. Pulpa adalah pembuluh darah dan saraf yang mengelilingi gigi.

Persiapan sebelum ke Poli Gigi

Sebenarnya, tidak ada hal khusus yang perlu dipersiapkan sebelum ke poli gigi. Menyikat gigi boleh saja, tetapi tidak diwajibkan, karena nantinya dokter gigi akan membersihkan gigi dan mulut secara menyeluruh. Hal yang mungkin perlu dipersiapkan adalah mental dan sikap terbuka tentang kondisi mulut dan gigi. Pastikan kamu menjawab jujur semua pertanyaan yang diajukan dokter nanti, dan jika ada yang ingin ditanyakan, buatlah catatan.

Prosedur Layanan di Poli Gigi

Secara umum, prosedur yang biasanya dilakukan selama pemeriksaan gigi di poli gigi adalah:

  1. Pemeriksaan Gigi
  • Dokter akan menanyakan kondisi kesehatan secara umum, terutama yang berkaitan dengan gigi dan mulut.
  • Dokter kemudian memeriksa kondisi gigi dan gusi secara langsung. Ini untuk melihat apakah ada gigi berlubang, plak yang lengket di gigi, serta celak di antara gigi dan gusi.
  • Selain memeriksa gigi, dokter juga akan memeriksa kondisi mulut secara keseluruhan. Termasuk lidah, tenggorokan, wajah, dan leher.
  • Dokter kemudian memberi saran mengenai gaya hidup yang diperlukan untuk menjaga kesehatan mulut dan gigi.
  • Dokter akan mengatur jadwal kunjungan atau pemeriksaan gigi selanjutnya.
  1. Pembersihan Gigi

Selain memeriksa, dokter gigi juga biasanya akan melakukan prosedur pembersihan gigi dan scaling bila perlu. Prosedur ini bermanfaat untuk menghilangkan plak pada gigi dan mencegah penyakit gusi. Dengan alat khusus, dokter akan membersihkan secara menyeluruh, seluruh bagian gigi. Setelah selesai, permukaan gigi akan dipoles dengan campuran pasta gigi abrasif dan fluoride, untuk menghilangkan noda pada gigi.

Hal yang Perlu Dilakukan setelah ke Poli Gigi

Setelah pemeriksaan di poli gigi selesai, dokter gigi akan mengajak kamu untuk berdiskusi mengenai perawatan lanjutan yang dibutuhkan. Jika ada masalah pada gigi, kunjungan mungkin perlu dilakukan kembali, sesuai jadwal yang disepakati. Di rumah, kamu perlu menjaga kebersihan dan kesehatan gigi. Dengan cara rutin menyikat gigi, setidaknya 2 kali sehari, dan menggunakan benang gigi. Hindari kebiasaan yang buruk bagi gigi, seperti merokok, menggigit benda keras, atau menggeretakkan gigi.

 

Poliklinik Endodonsi

 

Mengenal Dokter Spesialis Konservasi Gigi atau Endodontist

 
 
 
Poliklinik Endodonsi

Mengenal Dokter Spesialis Konservasi Gigi atau Endodontist

Dokter spesialis konservasi gigi atau endodontist tidak hanya menangani kasus gigi berlubang. Ada berbagai perawatan yang bisa dilakukan oleh dokter spesialis ini. Gigi berlubang memerlukan perawatan, baik dengan tambal gigi ataupun cabut gigi. Tambal gigi bisa dilakukan jika lubang pada gigi masih kecil. Namun, pada kasus gigi yang berlubang besar, gigi biasanya akan dicabut. Padahal, kondisi tersebut bisa saja masih dapat diselamatkan, asalkan pasien datang ke dokter gigi spesialis yang tepat. Spesialis yang menangani kondisi gigi berlubang ini adalah dokter spesialis konservasi gigi atau dokter gigi spesialis endodontist. Dokter spesialis endodontist adalah dokter spesialis gigi yang memiliki fokus merawat gigi semaksimal mungkin, sehingga gigi tidak perlu dilakukan pencabutan Selain itu, banyak sekali perawatan yang dapat dilakukan spesialis konservasi, terutama untuk mempertahankan gigi. Untuk lebih jelasnya, simak pembahasan seputar dokter spesialis endodontist berikut ini.

Masalah yang Ditangani Dokter Spesialis Konservasi Gigi

ebelum datang ke dokter gigi spesialis, Anda terlebih dahulu harus mengenal apa saja permasalahan yang dapat ditangani dokter tersebut. Sama halnya pada spesialis konservasi. Dokter spesialis konservasi gigi akan lebih banyak melakukan perawatan yang terjadi pada gigi. Berbeda dengan spesialis periodonti yang lebih banyak merawat jaringan di sekitar gigi. Lalu, apa saja permasalahan yang dapat ditangani dokter spesialis konservasi gigi? Berikut di antaranya:

  • Gigi Berlubang
  • Gigi ngilu.
  • Gigi Sensitif
  • Gigi yang sudah mati.
  • Pembengkakan di sekitar gigi.

Perawatan yang Bisa Diberikan Dokter Spesialis Konservasi Gigi

Perawatan yang dilakukan oleh dokter spesialis konservasi gigi ada yang hanya membutuhkan satu kali kunjungan, tetapi ada juga yang memerlukan lebih dari satu kali kunjungan. Prinsip merawat gigi lah yang membuat perawatan dapat dilakukan dalam waktu yang lama, sehingga membutuhkan kunjungan yang lebih banyak. Berikut ini adalah daftar perawatan yang dapat dilakukan di dokter spesialis konservasi gigi:

  • Tambal gigi.
  • Pembuatan inlay/onlay.
  • Perawatan saluran akar.
Poliklinik Bedah Mulut

Spesialis Bedah Mulut Dan Maksilofasial

APA ITU SPESIALIS BEDAH MULUT DAN MAKSILOFASIAL?

Bidang spesialis kedokteran gigi ini menangani perawatan kelainan di rongga mulut seperti gigi bungsu yang terpendam atau tumbuh miring, implan gigi, kecelakaan yang menyebabkan patah tulang rahang, kelainan celah bibir dan celah langit-langit serta tumor di rongga mulut. Spesialis bedah mulut menangani pasien yang memerlukan pembedahan, yang mana terdiri dari dua tipe pembedahanyaitu:

  • Pembedahan Minor adalah pembedahan dengan anestesi lokal biasanya dilakukan pada pengambilan gigi belakang yang tumbuhnya miring atau yang tidak dapat tumbuh dan juga dapt dilakukan untuk penghalusan tulang dimana ada tonjolan tulang yang tajam sebelum pembuatan gigi palsu.
  • Pembedahan Mayor adalah pembedahan dengan anestesi umum biasanya dilakukan pada kasus rahang yang patah atau pengangkatan tumor yang besar.

APA SAJA JENIS PELAYANAN SPESIALIS BEDAH MULUT & MAKSILOFASIAL?

  • Pencabutan.
  • Odontektomi (suatu tindakan bedah untuk mengeluarkan gigi bungsu yang impaksi).
  • Implan gigi (gigi tiruan yang paling mirip dengan gigi asli).
  • Ekstirpasi kista (tindakan pengangkatan seluruh massa kista beserta kapsulnya).
  • Insisi/Eksisi gingiva (sayatan kecil pada bagian dalam atau luar gusi).
  • Alveolektomi (tindakan bedah untuk membuang tulang alveolaris yang menonjol baik sebagian maupun seluruhnya).
  • Tindakan bedah dengan anestesi umum.
Poliklinik Mata

Poliklinik Mata

Poliklinik mata adalah klinik yang memberikan pemeriksaan, perawatan, serta diagnosis yang berhubungan dengan penyakit mata dan gangguan penglihatan.

Berbagai Penyakit yang Ditangani di Polikinik Mata

Jenis-jenis penyakit yang umumnya ditangani di Poliklinik Mata dengan dokter spesialis mata, di antaranya adalah:

  • Katarak
  • Blepharitis
  • Distrofi kornea
  • Glaukoma
  • Keratitis
  • Cedera pada kornea
  • Keratoconus
  • Rabun dekat dan jauh
  • Presbyopia
  • Uveitis
  • Penyakit vitreoretinal, termasuk retinopati diabetik dan degenerasi makula
  • Tumor jinak dan pseudotumor.
  • Pterygium

Waktu yang Tepat untuk periksa ke Dokter Spesialis Mata

Jangan tunggu sampai terjadi perubahan penglihatan. Beberapa gejala pada mata yang sebaiknya langsung diperiksakan ke dokter spesialis mata, yaitu:

  • Kehilangan penglihatan atau penglihatan menurun pada satu maupun kedua mata.
  • Perubahan pada pandangan atau penglihatan, seperti ada bintik-bintik, cahaya berkilat, bergaris, bergelombang, maupun penglihatan ganda yang timbul secara secara tiba-tiba.
  • Perubahan fisik pada mata, seperti kemerahan atau bengkak
  • Perubahan warna pada penglihatan.
Poliklinik Paru

Poli Paru atau Poliklinik Paru adalah poliklinik yang menyediakan layanan kesehatan untuk masalah pernapasan, seperti asma, bronkitis, pneumonia, emfisema, dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Poliklinik ini berfokus pada diagnosis dan pengobatan penyakit pernapasan dan memastikan bahwa pasien dengan masalah pernapasan mendapatkan perawatan yang tepat. Dalam Poli Paru, pasien akan diperiksa oleh dokter spesialis paru yang terlatih dan berpengalaman dalam mengatasi masalah kesehatan pernapasan. Pemeriksaan biasanya meliputi pemeriksaan fisik, tes fungsi paru, dan tes pemindaian seperti x-ray atau CT scan. Layanan yang disediakan oleh Poli Paru meliputi diagnosis dan pengobatan berbagai masalah pernapasan, termasuk asma, bronkitis, pneumonia, emfisema, dan PPOK. Pengobatan yang ditawarkan dapat meliputi pemberian obat-obatan, terapi oksigen, terapi fisik, atau perawatan intensif di rumah sakit. Poli Paru juga memberikan edukasi tentang cara menjaga kesehatan paru-paru dan mencegah masalah kesehatan pernapasan. Poliklinik ini penting dalam memastikan bahwa pasien dengan masalah pernapasan mendapatkan perawatan yang tepat dan mempercepat pemulihan pasien.

Poliklinik Anak

Dokter spesialis anak adalah dokter yang memiliki fokus untuk merawat kesehatan fisik, mental, hingga perkembangan sosial anak hingga ia berusia 18 tahun. Dokter yang sering juga disebut sebagai dokter pediatrik ini juga berkompetensi untuk memeriksa, mendeteksi, dan mencegah segala permasalah kesehatan dan tumbuh kembang anak. Untuk menjadi seorang dokter spesialis anak, seseorang harus menjalani sekolah spesialis setelah sebelumnya lulus sebagai dokter umum. Gelar yang didapat dokter anak adalah Sp.A. Umumnya para orang tua sering memberikan julukan DSA pada dokter yang menangani buah hatinya. Secara medis, dokter anak juga bisa disebut sebagai dokter pediatrik. 

Apa saja tugas dokter spesialis anak?

seorang dokter spesialis anak memiliki kompetensi atau tugas yang luas dalam menjaga dan merawat pasien-pasiennya. Berikut ini garis besarnya.

  • Melakukan pemeriksaan fisik
  • Memberikan vaksin atau melakukan imunisasi
  • Merawat kasus cedera pada anak, seperti patah tulang atau dislokasi sendi
  • Mengevaluasi tumbuh kembang anak secara fisik, mental, dan sosial
  • Memberikan saran kepada orang tua tentang hal-hal yang berhubungan dengan kesehatan buah hatinya
  • Mendiagnosis penyakit anak dan meresepkan obat jika diperlukan
  • Memberikan rujukan pada dokter spesialis lain jika diperlukan
Poliklinik Bedah

Dokter bedah adalah dokter spesialis yang mengobati penyakit, cedera, atau kondisi gawat darurat pada tubuh melalui metode bedah (operatif) dan obat-obatan. Untuk menjadi dokter bedah, seseorang harus menyelesaikan pendidikan dan profesi dokter umum, lalu menyelesaikan pendidikan spesialis ilmu bedah. Dalam praktiknya, dokter spesialis bedah tak jarang menerima rujukan dari dokter umum atau dokter spesialis lain terkait kondisi pasien yang membutuhkan tindakan bedah. Kemudian, dokter bedah akan melakukan diagnosis sesuai keahlian dan ilmu yang dimiliki untuk menentukan perlu atau tidaknya prosedur bedah dilakukan. Dalam menangani pasien, dokter bedah umum bertugas merawat pasien sebelum, selama, dan setelah prosedur pembedahan. Dokter bedah akan bekerja sama dengan dokter anestesi dan perawat saat prosedur bedah dilakukan.

Poliklinik Neurology (Syaraf)

Dokter spesialis neurologi merupakan dokter yang memiliki keterampilan khusus dalam mendiagnosis dan mengobati penyakit yang berkaitan dengan sistem saraf, termasuk otak, otot, saraf tepi, dan saraf tulang belakang. Dokter spesialis ini juga dikenal dengan dokter spesialis saraf dan memiliki gelar Sp.S.

Secara umum, dokter spesialis neurologi atau neurologis dapat dibagi menjadi dua bidang sesuai dengan metode perawatan yang diberikan, yaitu dokter bedah saraf dan dokter spesialis saraf yang menangani penyakit saraf dengan metode nonbedah.

Bidang Kerja Dokter Spesialisasi Neurologi

Secara klinis, bidang kerja dokter spesialis neurologi dapat dibedakan menjadi delapan subspesialisasi. Pembagian bidang ini bertujuan untuk mempermudah penanganan gangguan sistem saraf para pasien. Seorang dokter spesialis yang telah mendalami pendidikan subspesialisasi disebut konsultan.

Berikut ini adalah beberapa bidang kerja dokter subspesialis neurologi:

1. Neurologi anak

Dokter subspesialis neurologi anak lebih terfokus pada penanganan gangguan saraf pada anak, mulai dari bayi hingga remaja. Berbagai gangguan saraf yang dapat ditangani oleh dokter konsultan neurologi anak meliputi kejang, epilepsi, hidrosefalus, kelemahan otot, serta tumor otak pada anak.

2. Neurologi epilepsi

Sesuai dengan namanya, dokter subspesialis yang satu ini memiliki bidang kerja yang lebih fokus dalam mendiagnosis dan menangani penyakit epilepsi pada anak.

3. Neurologi vaskular

Dokter subspesialis neurologi vaskular adalah dokter yang secara khusus mendalami dan mengobati penyakit pada pembuluh darah otak, seperti stroke dan kelainan pembentukan pembuluh darah otak (arteriovenous malformation/AVM).

4. Neurologi nyeri dan saraf tepi

Dokter subspesialis neurologi yang satu ini lebih fokus dalam mendiagnosis dan menangani penyakit yang berkaitan dengan keluhan nyeri akibat gangguan saraf tepi dan otonom.

Beberapa gangguan saraf yang dapat diobati oleh konsultan neurologi nyeri meliputi neuropati diabetik, neuropati otonom, nyeri akibat cedera, dan kerusakan saraf.

5. Neurologi intervensi

Fokus seorang dokter subspesialis neurologi intervensi adalah mengobati kelainan sistem saraf pusat di otak dan saraf tulang belakang. Penanganan umumnya dilakukan dengan teknologi radiologi dan metode penanganan invasif minimal, misalnya pemasangan klip atau ring di otak atau terapi radiasi untuk mengobati tumor otak.

6. Neuro-onkologi

Dokter subspesialis yang mendalami bidang neuro-onkologi memiliki keahlian khusus dalam menangani tumor atau kanker pada otak maupun saraf tulang belakang.

7. Neurologi geriatri

Dokter subspesialis neurologi geriartri adalah dokter yang memiliki fokus pada diagnosis dan pengobatan penyakit saraf akibat penuaan. Tak hanya itu, dokter subspesialis ini juga memiliki keahlian dalam menangani penyakit saraf pada lansia.

8. Neurologi intensif dan emergensi

Salah satu subspesialis bidang neurologi yang secara khusus mendiagnosis, mengobati, dan merawat pasien gangguan sistem saraf dengan kondisi kritis. Dokter subspesialis ini juga mampu menangani kasus kegawatdaruratan terkait penyakit saraf.

Dalam tugasnya, dokter subspesialis neurologi intensif dan emergensi juga dapat bekerja sama dengan dokter spesialis lain untuk membantu pengobatan pasien dan salah satunya adalah dokter ahli bedah saraf jika kasus yang ditangani membutuhkan tindakan pembedahan saraf.

Berbagai Kondisi yang Dapat Ditangani Dokter Spesialis Neurologi

Seperti yang telah dijelaskan di atas, dokter spesialis neurologi memiliki pengetahuan mendalam mengenai penyakit yang berkaitan dengan sistem saraf manusia. Berbagai penyakit saraf yang dapat ditangani dokter spesialis neurologi meliputi:

  • Stroke
  • Epilepsi
  • Tumor sistem saraf
  • Multiple sclerosis
  • Demensia, misalnya pada penyakit Alzheimer
  • Gangguan gerak
  • Myasthenia Gravis
  • Infeksi sistem saraf pusat, seperti meningitis, abses otak, dan radang otak (ensefalitis)
  • Penyakit Lou Gehrig atau penyakit ALS
  • Gangguan saraf tulang belakang
  • Migrain atau sakit kepala parah
  • Neuropati perifer
  • Tremor
  • Penyakit Parkinson
  • Saraf terjepit
  • Nyeri terkait gangguan saraf

Tindakan yang Dapat Dilakukan Dokter Neurologi

Dalam melakukan diagnosis, biasanya dokter spesialis neurologi akan menelusuri riwayat kesehatan dan gejala yang dirasakan pasien.

Setelah itu, dokter neurologi akan melakukan serangkaian pemeriksaan fisik umum dan neurologi yang berfokus pada otak dan saraf tepi untuk mendiagnosis gangguan saraf yang dialami pasien. Pemeriksaan ini dapat berupa pemeriksaan saraf penglihatan, kekuatan otot, refleks, bicara, sensasi sentuhan, koordinasi, dan keseimbangan.

Untuk memantapkan diagnosisnya, dokter spesialis neurologi sering menyarankan pasien untuk melakukan pemeriksaan tambahan, seperti:

  • Pemeriksaan laboratorium, seperti tes urine, tes darah, dan analisa cairan otak.
  • Pemeriksaan radiologi, misalnya CT Scan, MRI, PET scan, angiografi, foto Rontgen, dan pemeriksaan USG
  • Tes listrik saraf, meliputi elektroensefalogram (EEG), elektromigrafi (EMG), dan elektronistagmorafi (ENG)
  • Biopsi jaringan otak dan saraf, untuk kasus tumor pada sistem saraf dan menentukan apakah tumor bersifat ganas atau tidak

Usai melakukan diagnosis, dokter spesialis neurologi akan menentukan metode pengobatan apa yang sesuai dengan kondisi pasien.

Umumnya, langkah pengobatan pertama yang diberikan dokter neurologi adalah pemberian obat-obatan untuk mengurangi gejala yang muncul. Jika pasien memerlukan tindakan pembedahan pada saraf, dokter neurologi akan merujuk pasiennya ke dokter spesialis bedah saraf.

Waktu yang Tepat Memeriksakan Diri ke Dokter Neurologi

Penyakit saraf terkadang tidak memiliki gejala yang khas dan bahkan menyerupai kondisi medis lainnya. Oleh karena itu, segera periksaan diri ke dokter spesialis neurologi apabila mengalami gejala berikut:

  • Kejang
  • Tremor
  • Sulit berjalan
  • Mudah lelah
  • Kelemahan atau kelumpuhan otot
  • Kebas atau mati rasa di bagian tubuh tertentu
  • Penyusutan massa otot (atrofi otot)
  • Gangguan penglihatan
  • Sulit berbicara
  • Gangguan menelan
  • Keluar keringat secara berlebihan
  • Vertigo

Hal yang Perlu Dipersiapkan Sebelum Bertemu Dokter Spesialis Neurologi

Sebelum bertemu dengan dokter spesialis neurologi, ada beberapa hal yang harus Anda persiapkan. Hal ini dilakukan guna memudahkan dokter spesialis neurologi menentukan perawatan yang tepat dan sesuai dengan kondisi Anda.

Berikut ini adalah beberapa hal yang harus Anda persiapkan sebelum bertemu dokter spesialis neurologi:

  • Bawa semua hasil pemeriksaan yang sudah pernah Anda lakukan sebelumnya saat berobat ke dokter neurologi.
  • Beri tahu dokter semua gejala dan keluhan yang Anda rasakan secara detail.
  • Beri tahu juga tentang riwayat penyakit, obat-obatan dan suplemen yang sedang dikonsumsi, serta alergi yang Anda miliki.
  • Minta keluarga atau teman untuk mendampingi Anda selama bertemu dengan dokter neurologi.
Poliklinik Bedah Syaraf

Bedah saraf adalah prosedur medis untuk mendiagnosis atau mengobati penyakit yang melibatkan sistem saraf. Bedah saraf tidak hanya dapat dilakukan pada otak, tetapi juga pada saraf tulang belakang dan saraf tepi yang terdapat di seluruh bagian tubuh, seperti pada wajah, tangan, dan kaki.

Prosedur bedah saraf dilakukan oleh dokter spesialis bedah saraf. Jenis bedah saraf yang dilakukan dapat berbeda-beda, tergantung pada penyakit yang akan didiagnosis atau diatasi. Cakupan penyakit yang bisa didiagnosis atau diatasi pun bermacam-macam, mulai dari kelainan kongenital, cedera kepala, tumor, infeksi, hingga stroke.

Teknik Bedah Saraf

Teknik dan metode bedah saraf yang dapat digunakan untuk mendiagnosis dan mengobati penyakit saraf sangat beragam. Beberapa di antaranya adalah:

1. Bedah otak atau kraniotomi

Pada kraniotomi, dokter akan membuka dan mengangkat sebagian kecil tulang tengkorak agar dapat melakukan tindakan medis pada otak. Bagian tulang tengkorak yang diangkat tersebut dinamakan bone flap atau penutup tulang tengkorak. Kraniotomi dilakukan dengan bius total sehingga pasien tidak sadar selama operasi. Setelah tulang tengkorak dipotong dan bone flap diangkat, dokter dapat melakukan berbagai prosedur medis, baik untuk kebutuhan diagnosis maupun untuk pengobatan. Sebagai prosedur pengobatan, kraniotomi dapat digunakan untuk berbagai keperluan, seperti mengangkat tumor, membuang abses otak, memperbaiki tulang tengkorak yang patah, dan membuang gumpalan darah.

2. Awake brain surgery (AWS)

Secara tindakan, AWS sama dengan bedah saraf kraniotomi. Bedanya, pada AWS pasien tidak diberikan bius total, melainkan hanya diberikan bius lokal dan obat penenang. Jadi, pasien berada dalam keadaan rileks, tetapi masih sadar dan bisa merespons dokter selama prosedur berlangsung. AWS biasanya dilakukan untuk mengobati tumor otak atau kejang epilepsi, terutama jika bagian otak yang menyebabkan kejang terletak dekat dengan pusat penglihatan, pergerakan anggota badan, atau pusat berbicara. Selama operasi, dokter akan memberikan pertanyaan atau meminta pasien melakukan sesuatu. Hal ini bertujuan agar dokter dapat memastikan bedah saraf dilakukan pada lokasi yang tepat.

3. Microsurgery atau bedah mikro

Bedah mikro merupakan teknik bedah saraf yang dilakukan dengan bantuan mikroskop untuk memperbaiki saraf tepi pada organ tubuh yang mengalami kerusakan. Penggunaan mikroskop pada bedah saraf mikro bertujuan agar dokter dapat melihat struktur saraf yang sangat halus, sehingga perbaikan saraf bisa lebih optimal.

4. Pemasangan ventriculoperitoneal shunt (VP Shunt)

VP shunt merupakan alat berupa saluran khusus yang terhubung dari otak ke rongga perut. Alat ini dipasang melalui prosedur pembedahan dan berfungsi untuk mengurangi penumpukan cairan otak pada penderita hidrosefalus.

5. Neuroendoskopi

Neuroendoskopi dilakukan menggunakan alat khusus berupa selang berkamera (endoskop) yang dimasukkan ke bagian dalam tengkorak melalui lubang kecil di tulang tengkorak, hidung, atau mulut. Metode ini memungkinkan dokter untuk memeriksa bagian otak yang sulit terlihat dengan kraniotomi biasa.Neuroendoskopi dapat digunakan untuk mendiagnosis tumor, mengambil sampel jaringan, atau mengangkat tumor.

6. Stereotactic radiosurgery (SRS)

SRS merupakan metode bedah saraf yang agak berbeda dari metode lainnya, karena tidak membutuhkan sayatan pada kulit. SRS menggunakan radiasi yang difokuskan pada titik-titik tertentu di bagian otak untuk menghancurkan sel-sel tumor di otak, dengan sebisa mungkin tidak mengenai jaringan sehat di sekitarnya.Radiasi yang dipancarkan akan merusak DNA sel-sel tumor dan membuat sel tersebut mati. Jenis radiasi yang digunakan dalam SRS bisa dalam bentuk sinar Rontgen, gamma, ataupun proton.

Poliklinik Bedah Digestive

Dokter bedah digestif berperan dalam mendiagnosis dan menangani berbagai gangguan pada sistem pencernaan. Penanganan dilakukan dengan melakukan operasi untuk memperbaiki atau bahkan menghilangkan bagian yang bermasalah.

Dokter bedah digestif adalah dokter spesialis bedah umum yang memiliki kapasitas untuk melakukan tindakan operasi pada saluran cerna dan organ-organ dalam sistem pencernaan. Saluran cerna meliputi kerongkongan, lambung, usus kecil, usus besar, dan rektum. Organ lain yang termasuk dalam sistem pencernaan adalah hati, pankreas, dan kantung empedu.

Kondisi yang Dapat Ditangani oleh Dokter Bedah Digestif

Berbagai gangguan pencernaan yang ditangani oleh dokter bedah digestif meliputi:

  • Tumor, kanker, cedera, dan perdarahan pada saluran cerna
  • Kanker hati dan pankreas
  • Akalasia, yaitu kelainan langka yang membuat makanan atau cairan sulit masuk ke lambung
  • Hernia
  • Prolaps rektum, yaitu kondisi di mana usus menonjol keluar melalui anus
  • Penyakit kantung empedu, seperti batu empedu
  • Gangguan pada usus, seperti radang usus, usus buntu, divertikulitis, penyakit crohn, dan kolitis ulseratif
  • GERD dan Tukak lambung 
  • Barrett esofagus, yaitu rusaknya lapisan di kerongkongan akibat GERD
  • Obesitas yang memerlukan tindakan operasi, seperti pemotongan lambung

Tindakan yang Dilakukan Dokter Bedah Digestif

Tindakan medis yang umum dilakukan oleh dokter bedah digestif adalah sebagai berikut:

Laparoskopi

Bedah laparoskopi adalah teknik operasi menggunakan alat khusus yang memungkinkan dokter melakukan pembedahan tanpa membuka dinding perut. Sayatan pada teknik operasi ini hanya sebesar lubang kunci dan proses penyembuhannya lebih cepat daripada teknik operasi biasa.

Ada beberapa jenis prosedur dengan teknik laparoskopi yang dapat dilakukan oleh dokter bedah digestif untuk mengobati gangguan pada sistem pencernaan, di antaranya:

  • Adrenalektomi, untuk menghilangkan pertumbuhan abnormal di kelenjar adrenal
  • Apendoktomi, untuk mengangkat usus buntu yang terinfeksi
  • Kolesistektomi, yaitu pengangkatan kantung empedu untuk menangani batu empedu
  • Nefrektomi, untuk mengangkat ginjal, misalnya pada pasien gagal ginjal atau kanker ginjal
  • Operasi bariatrik atau operasi pemotongan langsung, untuk mengecilkan ukuran lambung pada pasien obesitas
  • Operasi foregut, untuk mengatasi gangguan di saluran pencernaan bagian atas yang meliputi kerongkongan, lambung, atau usus kecil bagian atas
  • Perbaikan hernia hiatal, untuk menangani hernia hiatal dan hernia paraesofagus
  • Operasi Nissen, yaitu operasi untuk menangani GERD yang parah
  • Operasi pankreas, untuk mengobati berbagai gangguan pada pankreas
  • Operasi retroperitoneum, untuk menangani masalah pada ruang di belakang ringgan perut
  • Operasi usus besar dan rektum
  • Splenektomi, yaitu operasi pengangkatan limpa

Prosedur bedah terbuka

Jika tidak memungkinkan untuk dilakukan laparoskopi, dokter bedah digestif akan melakukan prosedur bedah terbuka (laparotomi). Beberapa contoh tindakan yang dilakukan adalah:

  • Operasi lambung
  • Adrenalektomi, yaitu operasi untuk mengangkat satu atau kedua kelenjar adrenal
  • Apendektomi, untuk mengangkat usus buntu
  • Nissen fundoplikasi, yaitu prosedur untuk memperkuat otot di antara lambung dan saluran kerongkongan pada pasien GERD yang parah
  • Roux-en-Y, yaitu tindakan memotong atau menghubungkan usus untuk mengobati obesitas atau GERD yang parah
  • Prosedur Whipple (pancreaticoduodenectomy), yaitu operasi untuk mengatasi kanker atau tumor pada pankreas

Waktu yang Tepat untuk Memeriksakan Diri ke Dokter Bedah Digestif

Anda biasanya akan mendapat rujukan ke dokter bedah digestif apabila gangguan pada sistem pencernaan tidak dapat ditangani lagi dengan obat-obatan.

Anda juga dapat memeriksakan diri ke dokter bedah digestif apabila mengalami gejala berupa:

  • BAB berdarah
  • Tidak dapat menelan
  • Nyeri perut

Persiapan Sebelum Konsultasi ke Dokter Bedah Digestif

Sebelum bertemu dokter bedah digestif, ada beberapa hal yang perlu Anda persiapkan, antara lain:

  • Mencatat semua keluhan atau gejala yang dialami untuk diberitahukan kepada dokter
  • Membawa hasil pemeriksaan yang telah dilakukan sebelumnya, misalnya hasil tes darah, USG, foto Rontgen, atau CT scan
  • Membawa surat rujukan dari dokter yang merawat
  • Mencatat semua obat-obatan, suplemen, dan obat herbal yang sedang dikonsumsi. Bila memungkinkan, Anda bisa membawa dan memperlihatkannya kepada dokter

Untuk menentukan dokter bedah digestif yang ingin dikunjungi, Anda bisa meminta referensi atau bertanya ke dokter yang menangani Anda atau kerabat yang pernah berkonsultasi dengan dokter bedah digestif.

Poliklinik Kandungan

Dokter spesialis obstetri dan ginekologi sering disebut juga dokter obgyn atau dokter kandungan. Dokter yang menyandang gelar SpOG ini, tak hanya sekadar memeriksa dan mengatasi gangguan pada kehamilan saja, tetapi juga seputar kesehatan organ reproduksi wanita.

Obstetri dan ginekologi memiliki makna yang berbeda. Obstetri adalah cabang ilmu kedokteran yang secara khusus mempelajari tentang kehamilan dan persalinan. Sementara itu, ginekologi adalah cabang ilmu kedokteran yang khusus mempelajari masalah seputar sistem reproduksi wanita. 

Masalah yang Dapat Ditangani Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi

Berikut ini adalah beberapa masalah kesehatan yang dapat ditangani oleh dokter spesialis obstetri dan ginekologi:

  • Masalah seputar menstruasi dan menopause
  • Gangguan terkait kesehatan seksual, seperti masalah libido, nyeri saat berhubungan seksual, dan vagina kering
  • Gangguan terkait sistem reproduksi wanita, seperti PCOS, radang panggul, mioma rahim, kista ovarium, kanker rahim, kanker serviks, kanker ovarium, penyakit menular seksual, dan endometriosis
  • Gangguan hormonal yang memengaruhi reproduksi wanita
  • Masalah terkait kesuburan maupun keputihan tidak normal
  • Masalah terkait kehamilan, seperti diabetes gestasional, preeklamsia dan eklamsia, kehamilan ektopik, letak plasenta rendah, kelainan janin di dalam kandungan, atau keguguran
  • Kondisi gawat darurat dalam persalinan, misalnya gawat janin, pendarahan pascapersalinan, tali pusat terlilit, dan infeksi cairan ketuban

Tindakan yang dapat Dilakukan Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi

Dokter spesialis obstetri dan ginekologi terlatih untuk melakukan berbagai tindakan medis dalam persalinan dan penanganan untuk mengatasi berbagai gangguan yang terjadi pada sistem reproduksi wanita.

Beberapa tindakan yang bisa dilakukan dokter spesialis obstetri dan ginekologi meliputi:

  • Pemeriksaan fisik organ reproduksi wanita, seperti pemeriksaan panggul, vagina, leher rahim, dan payudara, serta pemeriksaan penunjang, seperti USG rahim dan USG transvaginal
  • Deteksi dini kanker pada organ reproduksi wanita, seperti kanker serviks, kanker rahim, dan kanker ovarium
  • Biopsi rahim atau leher rahim, seperti Pap smear
  • Konsultasi terkait alat kontrasepsi dan vaksinasi HPV untuk mencegah kanker serviks
  • Konsultasi kehamilan atau perawatan prenatal (sebelum melahirkan)
  • Proses persalinan, baik normal maupun operasi caesar, dan perawatan setelahnya.
  • Perawatan payudara pascapersalinan untuk mendukung proses pemberian ASI yang optimal
  • Dilatasi dan kuretase (kuret)
  • Tindakan pembedahan, seperti histerektomi atau pengangkatan rahim dan miomektomi atau pengangkatan mioma uteri dalam rahim, baik secara konvensional atau dengan metode bedah laparoskopi
  • Ligasi tuba untuk sterilisasi pada wanita
  • Dokter spesialis obgyn konsultan fertilitas dapat melakukan tindakan inseminasi buatan atau bayi tabung untuk mengupayakan terjadinya kehamilan

Waktu yang Tepat Memeriksakan Diri ke Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi

Tidak hanya wanita hamil atau sedang melakukan program hamil saja yang disarankan untuk berkonsultasi ke dokter kandungan, wanita sehat juga disarankan untuk melakukan pemeriksaan rutin 1–5 tahun sekali. Hal ini penting dilakukan guna menjaga kesehatan reproduksi dan mencegah gangguan yang dapat terjadi. Pemeriksaan kesehatan wanita ini juga penting dilakukan, terutama pada wanita yang berusia di atas 21 tahun dan telah berhubungan seksual secara aktif. Selain itu, Anda dianjurkan untuk memeriksakan diri ke dokter kandungan jika mengalami perubahan pada siklus menstruasi, menjelang menopause, atau memantau kondisi janin dan kehamilan. Anda juga perlu memeriksakan diri ke dokter jika memiliki beberapa gejala terkait organ kewanitaan, yaitu perubahan volume atau frekuensi pada siklus menstruasi, kram perut yang tidak biasa, dan nyeri saat buang air kecil atau saat berhubungan seksual.

 

Poliklinik Penyakit Dalam

Dokter spesialis penyakit dalam atau internis adalah dokter yang menangani berbagai keluhan dan masalah kesehatan yang mencakup semua organ tubuh bagian dalam, baik pada orang dewasa maupun lansia. Dokter spesialis ini memiliki gelar Sp.PD.

Ilmu Penyakit Dalam adalah ilmu kedokteran yang menangani berbagai penyakit pada dewasa dan lansia dengan cakupan hampir seluruh bagian tubuh manusia. Seorang dokter harus menempuh pendidikan kedokteran umum dan program pendidikan spesialis ilmu penyakit dalam untuk bisa menjadi seorang spesialis penyakit dalam.

Tindakan Medis Umum yang Dapat Dilakukan Dokter Spesialis Penyakit Dalam

Berikut ini adalah beberapa tindakan medis yang umum dilakukan oleh dokter spesialis penyakit dalam:

  • Mendiagnosis dan menangani penyakit pada orang dewasa dan lansia, baik akut maupun kronis, melalui tindakan nonbedah
  • Memberikan rekomendasi perawatan penyakit yang diderita pasien dewasa dan lansia
  • Memberikan layanan vaksinasi dewasa, melakukan upaya penurunan faktor risiko penyakit, menilai keberhasilan terapi, dan merencanakan tindak lanjutnya
  • Melakukan pemeriksaan fisik dan menilai hasil pemeriksaan penunjang, seperti pemeriksaan darah, elektrokardiogram (EKG), pemeriksaan fungsi paru, analisis cairan tubuh, foto Rontgen, USG, dan CT scan
  • Memberikan pengobatan terkait diagnosis dan kondisi pasien
  • Mengatur asupan nutrisi dan tata laksana nutrisi terkait penyakit tertentu bersama dokter gizi, misalnya diabetes mellitus, malnutrisi, obesitas, dan penyakit ginjal kronis
  • Memberikan penanganan pada keadaan kritis dan kedaruratan medis

Tindakan Medis Khusus Sesuai Bidang Dokter Subspesialisasi Penyakit Dalam

Selain itu, ada juga beberapa daftar keterampilan klinis yang dapat dilakukan dokter spesialis penyakit dalam sesuai bidang spesialisasinya, yaitu:

  • Bidang alergi imunologi klinik: vaksinasi dewasa dan tes alergi yang meliputi prick test dan skin test
  • Bidang endokrinologi metabolik diabetes: pemeriksaan glukosa darah, perawatan luka kaki diabetes, dan aspirasi kista tiroid
  • Bidang gastroenterohepatologi: pemasangan pipa nasogastrik (NGT), pengambilan cairan di rongga perut, dan USG abdomen
  • Bidang geriatri: perawatan luka dekubitus dan penanganan gangguan medis pada lansia, termasuk aspek nutrisi dan psikologis
  • Bidang ginjal hipertensi: pemasangan kateter folley dan hemodialisis atau cuci darah
  • Bidang hematologi-onkologi medik: biopsi sumsum tulang, penilaian hasil pemeriksaan pencitraan dan radionuklir, serta kemoterapi standar
  • Bidang kardiovaskular: elektrokardiografi (EKG), pemasangan kateter vena perifer, serta pengobatan pada penyakit jantung dan pembuluh darah
  • Bidang pulmonologi: tes fungsi paru, pengambilan cairan dalam rongga paru dengan atau tanpa panduan USG, terapi uap, dan terapi oksigen
  • Bidang psikosomatik: psikoterapi serta penelusuran kondisi fisik dan psikologis pasien
  • Bidang reumatologi: pengambilan cairan sendi dan pemberian obat suntikan melalui sendi
  • Bidang tropik infeksi: pencegahan infeksi nosokomial, pengendalian resistensi antibiotik, serta pengambilan sampel darah, urine, nanah, dan feses

Waktu yang Tepat Mengunjungi Dokter Spesialis Penyakit Dalam

Biasanya, seseorang perlu menemui dokter spesialis penyakit dalam berdasarkan rujukan dari dokter umum terkait gejala-gejala yang dialami. Dokter penyakit dalam juga dapat merujuk pasien ke dokter konsultan spesialis penyakit dalam jika dibutuhkan.

Selain rujukan dari dokter umum, Anda juga bisa menemui dokter spesialis penyakit dalam secara langsung bila Anda sudah yakin bahwa gejala dan penyakit yang Anda alami memerlukan penanganan dari dokter spesialis tersebut atau ketika membutuhkan second opinion terhadap diagnosis sebelumnya.

Mengingat dokter spesialis penyakit dalam menangani hampir semua penyakit yang berkaitan dengan organ dan sistem organ, Anda disarankan menemui atau berkonsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam ketika:

  • Memiliki keluhan atau gejala apa pun yang memengaruhi sistem dan organ tubuh, seperti gangguan pada sistem pencernaan, sistem pernapasan, atau jantung dan pembuluh darah (kardiovaskular)
  • Merasakan gejala yang sangat luas dan kompleks
  • Membutuhkan perawatan komprehensif jangka panjang
  • Membutuhkan perawatan pencegahan terhadap penyakit tertentu, baik karena adanya faktor risiko genetik atau faktor risiko lingkungan
Poliklinik Jiwa

Ruang Lingkup Tugas Kedokteran Psikiatri

Dokter yang telah selesai menjalani pendidikan spesialisasi di bidang psikiatri disebut psikiater atau dokter spesialis kesehatan jiwa (SpKJ). Tugas pokok seorang psikiater adalah mendiagnosis dan mengobati pasien yang mengalami gangguan mental, serta melakukan pencegahan terhadap gangguan tersebut.

Berikut adalah beberapa contoh gangguan mental yang ditangani oleh psikiater:

  • Fobia
  • Depresi
  • Demensia
  • Gangguan kepribadian
  • Gangguan Kecemasan
  • Gangguan tidur, termasuk insomnia
  • Gangguan makan, termasuk anoreksia dan bulimia
  • Gangguan Obsesif kompulsif (OCD)
  • Gangguan stres pascatrauma (PTSD)
  • Skizofrenia
  • Kecanduan obat-obatan terlarang atau minuman beralkohol

Selain menangani kondisi di atas, psikiater juga sering dilibatkan dalam penanganan penyakit yang dapat berkaitan dengan kondisi psikologis pasien, seperti kanker, stroke, kelainan jantung dan pembuluh darah.

Karena psikiatri adalah suatu cabang ilmu medis, psikiater pun diizinkan untuk meresepkan obat-obatan guna membantu mengatasi gangguan mental yang dialami pasien. Berbeda dengan psikiater, psikolog tidak memiliki wewenang untuk meresepkan obat.

Waktu yang Tepat untuk Mengunjungi Psikiater

Waktu yang tepat untuk mengunjungi psikiater atau psikolog adalah ketika mengalami keluhan psikologis, terlebih jika sudah memengaruhi kondisi fisik dan aktivitas sehari-hari. Pasien boleh mengunjungi psikolog terlebih dahulu guna mendapat konseling ketika mengalami keluhan psikologis. Namun, saat dirasa perlu, psikolog akan merujuk pasien ke psikiater untuk mendapatkan pengobatan secara menyeluruh. Meskipun demikian, ada beberapa kondisi yang mengharuskan pasien dengan keluhan psikologis untuk dibawa langsung ke psikiater, misalnya skizofrenia atau depresi yang sudah parah hingga memiliki niat untuk bunuh diri. Jika langsung ditangani oleh psikiater, pasien bisa segera mendapatkan pengobatan untuk meredakan gejalanya, sehingga tidak membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Ilmu psikiatri dan psikologi saling melengkapi. Meski begitu, penanganan yang dapat diberikan oleh psikiater berbeda dengan psikolog. Karena batasan inilah, psikolog lebih banyak menangani kondisi psikologis yang berkaitan dengan masalah sehari-hari, sedangkan psikiater lebih banyak menangani gangguan kejiwaan yang sudah parah dan memerlukan pemberian obat-obatan.

Poliklinik Kulit dan Kelamin

Dokter spesialis kulit dan kelamin (SpKK) merupakan dokter yang fokus menangani beragam masalah kesehatan kulit dan kelamin, baik pada pria maupun wanita. Tugas dokter spesialis kulit dan kelamin adalah mendiagnosa dan memberikan penanganan sesuai dengan keluhan yang Anda rasakan.

Jika gangguan kesehatan kulit dan kelamin yang Anda derita tak kunjung membaik pasca berobat ke dokter umum, Anda akan direkomendasikan untuk berobat ke dokter spesialis kulit dan kelamin atau spesialis dermatovenereologi (Sp. DV). Dokter spesialis kulit dan kelamin memiliki pengetahuan dan keterampilan klinis yang lebih mendalam dalam mengatasi berbagai penyakit kulit dan kelamin. Sama dengan dokter lainnya, dokter spesialis kulit dan kelamin juga akan melakukan diagnosis terlebih dahulu untuk mengetahui dengan pasti penyakit yang diderita pasien. Diagnosis tersebut dapat meliputi wawancara riwayat keluhan, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang yang diperlukan. Tujuannnya agar dokter bisa mengetahui berbagai faktor penyebab gangguan kesehatan yang dialami pasien, sehingga dapat menentukan pengobatan maupun perawatan yang tepat.

Beragam Penyakit Kulit yang Ditangani Dokter Kulit dan Kelamin

Penyakit kulit dan kelamin sangat berbeda, baik dari segi jenis penyakit maupun pengobatannya. Penyakit kulit terdiri lebih dari 3.000 jenis, mulai dari penyakit kulit infeksi, non infeksi, alergi, imunologi, penyakit menular seksual, kosmetik, penyakit kulit pada anak dan orang tua, hingga yang bersifat gawat darurat.

Beberapa jenis penyakit kulit yang sering terjadi dan ditangani oleh dokter kulit dan kelamin, antara lain:

1. Alergi Kulit

Alergi kulit ditandai dengan peradangan pada kulit yang dipengaruhi oleh sistem kekebalan tubuh yang terlalu peka terhadap beberapa pencetus alergi, seperti debu, serbuk sari, hingga bahan makanan tertentu.

2. Infeksi jamur

Salah satu penyebab Infeksi jamur adalah jamur Candida. Infeksi jamur ini dapat terjadi pada hampir seluruh area tubuh, tapi lebih sering ditemukan pada ketiak, selangkangan, lipatan kulit, serta area antara jari tangan dan kaki.

3. Herpes zoster

Herpes Zoster atau cacar api atau cacar ular disebabkan oleh varicella zoster virus. Penyakit ini ditandai dengan ruam kulit yang nyeri dan lama kelamaan akan tampak seperti luka melepuh. Penyakit ini terjadi sebagai bentuk pengaktifan kembali cacar air.

4. Psoriasis

Psoriasis merupakan penyakit autoimun kronis yang menyebabkan produksi sel-sel kulit terlalu cepat, sehingga terjadi penumpukan sel kulit. Penyakit ini ditandai dengan beberapa gejala seperti kulit yang memerah, bercak bersisik, gatal, kering, dan menebal.

5. Kanker kulit

Kanker kulit merupakan jenis penyakit yang harus diobati agar sel kanker tidak menyebar ke organ lain. Melonema adalah salah satu jenis penyakit kanker kulit yang paling berbahaya. Sementara itu, penyakit kelamin yang banyak terjadi umumnya berupa Penyakit Menular Seksual (PMS). Penyakit menular seksual adalah infeksi yang ditularkan melalui hubungan seksual. Kondisi ini bisa terjadi baik pada pria maupun wanita, namun masalah kesehatan yang ditimbulkannya lebih parah bagi wanita.

Beragam penyakit kelamin lain yang umumnya ditangani dokter kulit dan kelamin antara lain adalah sebagai berikut:

1. Sifilis

Sifilis merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri treponema pallidum. Sifilis termasuk dalam penyakit menular yang dapat menyebar melalui aktivitas seksual tanpa pengaman, seperti seks oral dan anal.

2. Gonore

Gonore termasuk dalam penyakit menular seksual yang disebabkan oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae. Hampir sama seperti sifilis, penyakit gonore dapat ditularkan melalui hubungan seksual tanpa pengaman, baik itu secara seks oral, vaginal, ataupun anal. Umumnya gonore menimbulkan keluhan berupa keluarnya cairan dari kelamin disertai nyeri.

3. Chlamydia

Chlamydia merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi Chlamydia trachomatis. Kondisi ini umumnya dialami oleh wanita muda yang melakukan aktivitas seksual tanpa menggunakan kondom.

4. HPV

Human papillomavirus (HPV) merupakan infeksi virus yang menular melalui kontak seksual secara langsung atau seks tanpa pengaman. Infeksi ini dapat terjadi pada alat kelamin, mulut, atau tenggorokan. Untuk mengatasi keluhan penyakit kulit dan kelamin, Anda bisa berkonsultasi ke dokter umum terlebih dulu. Jika kasus yang Anda derita perlu untuk penanganan lebih lanjut, maka Anda akan dirujuk ke dokter spesialis kulit dan kelamin guna mendapatkan pengobatan hingga sembuh.

Poliklinik Mawar

HIV (human immunodeficiency virus) adalah virus yang merusak sistem kekebalan tubuh dengan menginfeksi dan menghancurkan sel CD4. Jika makin banyak sel CD4 yang hancur, daya tahan tubuh akan makin melemah sehingga rentan diserang berbagai penyakit.

HIV yang tidak segera ditangani akan berkembang menjadi kondisi serius yang disebut AIDS (acquired immunodeficiency syndrome). AIDS adalah stadium akhir dari infeksi HIV. Pada tahap ini, kemampuan tubuh untuk melawan infeksi sudah hilang sepenuhnya. Penularan HIV terjadi melalui kontak dengan cairan tubuh penderita, seperti darah, sperma, cairan vagina, cairan anus, serta ASI. Perlu diketahui, HIV tidak menular melalui udara, air, keringat, air mata, air liur, gigitan nyamuk, atau sentuhan fisik. HIV adalah penyakit seumur hidup. Dengan kata lain, virus HIV akan menetap di dalam tubuh penderita seumur hidupnya. Meski belum ada metode pengobatan untuk mengatasi HIV, tetapi ada obat yang bisa memperlambat perkembangan penyakit ini dan dapat meningkatkan harapan hidup penderita.

HIV dan AIDS di Indonesia

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI tahun 2019, terdapat lebih dari 50.000 kasus infeksi HIV di Indonesia. Dari jumlah tersebut, kasus HIV paling sering terjadi pada heteroseksual, diikuti lelaki seks lelaki (LSL) atau homoseksual, pengguna NAPZA suntik (penasun), dan pekerja seks. Sementara itu, jumlah penderita AIDS di Indonesia cenderung meningkat. Di tahun 2019, tercatat ada lebih dari 7.000 penderita AIDS dengan angka kematian mencapai lebih dari 600 orang. Akan tetapi, dari tahun 2005 hingga 2019, angka kematian akibat AIDS di Indonesia terus mengalami penurunan. Hal ini menandakan pengobatan di Indonesia berhasil menurunkan angka kematian akibat AIDS.

Gejala HIV dan AIDS

Kebanyakan penderita mengalami flu ringan pada 2–6 minggu setelah terinfeksi HIV. Flu bisa disertai dengan gejala lain dan dapat bertahan selama 1–2 minggu. Setelah flu membaik, gejala lain mungkin tidak akan terlihat selama bertahun-tahun meski virus HIV terus merusak kekebalan tubuh penderitanya, sampai HIV berkembang ke stadium lanjut menjadi AIDS. Pada kebanyakan kasus, seseorang baru mengetahui bahwa dirinya terserang HIV setelah memeriksakan diri ke dokter akibat terkena penyakit parah yang disebabkan oleh melemahnya daya tahan tubuh. Penyakit parah yang dimaksud antara lain diare kronis, pneumonia, atau toksoplasmosis otak.

Penyebab dan Faktor Risiko HIV dan AIDS

Penyakit HIV disebabkan oleh human immunodeficiency virus atau HIV, sesuai dengan nama penyakitnya. Bila tidak diobati, HIV dapat makin memburuk dan berkembang menjadi AIDS. Penularan HIV dapat terjadi melalui hubungan seks vaginal atau anal, penggunaan jarum suntik, dan transfusi darah. Meskipun jarang, HIV juga dapat menular dari ibu ke anak selama masa kehamilan, melahirkan, dan menyusui.

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko penularan adalah sebagai berikut:

  • Berhubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan dan tanpa menggunakan pengaman
  • Menggunakan jarum suntik bersama-sama
  • Melakukan pekerjaan yang melibatkan kontak dengan cairan tubuh manusia tanpa menggunakan alat pengaman diri yang cukup

Lakukan konsultasi ke dokter bila Anda menduga telah terpapar HIV melalui cara-cara di atas, terutama jika mengalami gejala flu dalam kurun waktu 2–6 minggu setelahnya.

Pengobatan HIV dan AIDS

Penderita yang telah terdiagnosis HIV harus segera mendapatkan pengobatan berupa terapi antiretroviral (ARV). ARV bekerja mencegah virus HIV bertambah banyak sehingga tidak menyerang sistem kekebalan tubuh.

Pencegahan HIV dan AIDS

Berikut adalah beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menghindari dan meminimalkan penularan HIV:

  • Tidak melakukan hubungan seks sebelum menikah
  • Tidak berganti-ganti pasangan seksual
  • Menggunakan kondom saat berhubungan seksual
  • Menghindari penggunaan narkoba, terutama jenis suntik
  • Mendapatkan informasi yang benar terkait HIV, cara penularan, pencegahan, dan pengobatannya, terutama bagi anak remaja
Poliklinik Rehabilitasi Medik

Dokter rehabilitasi medis (Sp.RM) adalah dokter spesialis yang berperan membantu memulihkan fungsi tubuh pasien yang mengalami gangguan atau kecacatan. Dengan bantuan dokter rehabilitasi medis, pasien diharapkan dapat memiliki kualitas hidup yang lebih baik.

Seperti penjelasan di atas, dokter rehabilitasi medis atau dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi (Sp.KFR) berperan penting dalam meningkatkan kualitas hidup pasien yang mengalami gangguan fungsi tubuh atau kecacatan akibat cedera, kecelakaan, atau penyakit tertentu. Dokter rehabilitasi medis dapat menentukan rencana tatalaksana atau program perawatan dan pengobatan sesuai dengan riwayat kesehatan pasien. Melalui program latihan dan perawatan fisik tersebut, pasien akan dibantu untuk meningkatkan kemampuan fisik dan kesehatannya serta memperbaiki kualitas hidupnya.

Kondisi yang Ditangani oleh Dokter Rehabilitasi Medis

Dalam prakteknya, dokter rehabilitasi medis akan berkolaborasi dan bekerja sama dengan tenaga kesehatan lain, seperti fisioterpis, ahli terapis okupasi (occupational therapist), terapis wicara, perawat, dokter umum, dan dokter spesialis lainnya, misalnya dokter saraf, dokter bedah, dokter spesialis kedokteran olahraga, dan dokter ortopedi.

Ada berbagai macam kondisi yang dapat ditangani oleh dokter rehabilitasi medis beserta tim rehabilitasi medik yang terdiri dari berbagai tenaga kesehatan tersebut, di antaranya:

  • Keterbatasan fungsi tubuh, kelemahan atau kelumpuhan anggota gerak, atau kecatatan, misalnya akibat cedera, kecelakaan, atau penyakit tertentu, seperti stroke
  • Pemulihan setelah menjalani operasi besar, seperti operasi penyambungan tulang, operasi sendi, operasi pada saraf dan otak, atau operasi tulang belakang
  • Pemulihan dari luka bakar derajat berat serta kelainan yang terkait, misalnya perlengketan jaringan tubuh atau kontraktur
  • Nyeri akut maupun kronis, misalnya akibati artritis, nyeri punggung, dan cedera berulang
  • Kesulitan bernapas, misalnya karena penyakit paru obstruksi kronis (PPOK) atau asma
  • Kesulitan bergerak atau terbatasnya pergerakan otot dan sendi akibat kondisi berat badan berlebih atau obesitas
  • Gangguan menelan dan kesulitan bicara, misalnya akibat kanker laring, stroke, atau cedera pada leher atau otak
  • Amputasi, misalnya pada pasien yang mengalami infeksi berat akibat luka diabetes, cedera, atau kecelakaan berat

Macam-macam Terapi yang Dilakukan Dokter Rehabilitasi Medis

Ada berbagai macam program latihan, teknik perawatan fisik, serta pengobatan yang dapat dilakukan oleh dokter rehabilitasi medis untuk memulihkan kondisi kesehatan pasien. Jenis penanganan dan program yang diberikan akan disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing pasien.

Secara umum, berikut adalah beberapa jenis penanganan yang dapat dilakukan oleh seorang dokter rehabilitasi medis:

Terapi okupasi

Terapi Okupasi merupakan perawatan khusus yang dilakukan dokter rehabilitasi medis dan occupational therapist untuk membantu pasien dengan keterbatasan fisik maupun mental. Dengan terapi okupasi, pasien akan dibimbing dan dilatih agar bisa beraktivitas serta hidup lebih mandiri dan produktif. Saat terapi okupasi dilakukan, dokter rehabilitasi medis akan memperhatikan dan menilai kesulitan yang dihadapi pasien dalam melakukan berbagai macam aktivitas. Dari situlah, dokter rehabilitasi medis dan ahli terapi okupasi akan memberikan pelatihan yang sesuai guna mempermudah pasien dalam melakukan aktivitas tersebut. Misalnya, pada pasien stroke, dokter rehabilitasi medis dan terapis okupasi akan melatih keseimbangan tubuh, mengajarkan kembali cara makan, minum, mandi, berpakaian, atau berjalan, serta mengajarkan cara menggunakan alat bantu, seperti kursi roda. Terapi okupasi tak hanya diberikan kepada penderita penyakit stroke, tapi juga pada penderita penyakit lain, seperti artritis, cedera otak, multiple sclerosis,  cerebral palsy, cedera tulang belakang, penyakit bawaan lahir, dan pada pasien yang menjalani amputasi.

Fisioterapi

Terapi berikutnya yang biasa diberikan dokter rehabilitasi medis adalah fisioterapi. Tujuannya untuk meningkatkan fungsi serta kekuatan sendi dan otot. Terapi ini umumnya akan dilakukan oleh dokter rehabilitasi medis dengan bantuan para fisioterapis. Dengan menjalani fisioterapi, keterbatasan gerak yang dialami pasien dapat teratasi, sehingga kemampuan mereka untuk berdiri, menyeimbangkan tubuh, berjalan, dan menaiki tangga akan menjadi lebih baik dibandingkan sebelumnya. Fisioterapi dianjurkan bagi pasien yang mengalami cedera, gangguan fisik, dan pergerakan yang terbatas, misalnya pasien stroke, saraf terjepit atau HNP, yang baru menjalani operasi tulang atau saraf, serta yang menjalani amputasi.

Terapi bicara

Latihan yang diberikan berfungsi untuk memperkuat otot-otot di wajah dan tenggorokan. Melalui terapi bicara, dokter dan terapis wicara dapat membantu pasien yang mengalami gangguan bicara, sulit untuk merangkai kata, dan gangguan menelan agar bisa berbicara serta makan dan minum lebih lancar. Terapi ini bisa dilakukan pada pasien dengan kondisi tertentu, seperti gagap, stroke, apraksia, disartria, kerusakan saraf tenggorokan dan pita suara, disfagia, demensia, atau gangguan mental tertentu, seperti ADHD dan autisme. Terapi bicara juga bisa dilakukan pada anak-anak yang mengalami keterlambatan dalam berbicara (speech delay).

Kapan Harus Mengunjungi Dokter Rehabilitasi Medis?

Anda disarankan untuk mengunjungi dokter rehabilitiasi medis jika:

  • Menderita penyakit atau cedera yang menyebabkan gangguan fisik, seperti kelumpuhan atau hilangnya fungsi normal pada bagian tubuh tertentu
  • Menderita cacat fisik yang menyebabkan ruang gerak untuk melakukan aktivitas normal menjadi terbatas atau terhambat
  • Telah menjalani operasi besar yang memerlukan latihan atau penyesuaian untuk melakukan aktivitas tertentu

Sebelum berkonsultasi dengan dokter rehabilitasi medis, Anda harus mempersiapkan terlebih dahulu surat rujukan dari dokter lain. Tujuannya agar dokter rehabilitasi medis mudah untuk menentukan terapi yang sesuai dengan keluhan Anda.

Dalam surat rujukan tersebut biasanya tercantum secara rinci riwayat kesehatan dan saran terapi yang dibutuhkan.

Poliklinik Jantung dan Pembuluh Darah

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah adalah dokter yang fokus dalam mendiagnosis dan menangani masalah penyakit yang berkaitan dengan jantung dan pembuluh darah atau kardiovaskular. Dokter yang memiliki gelar Sp.JP ini dkenal juga dengan sebutan ahli kardiologi.

Kedokteran jantung dan pembuluh darah juga merupakan bidang yang dipelajari dokter spesialis penyakit dalam. Para dokter spesialis jantung dan dokter spesialis penyakit dalam tak jarang berkolaborasi atau bekerja sama dalam menangani pasien yang bermasalah dengan jantung dan pembuluh darahnya.

Penyakit yang Ditangani Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah

Ada beberapa penyakit kardiovaskular yang dapat ditangani oleh dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, di antaranya:

  • Infark miokard atau angina
  • Penyakit jantung koroner
  • Penyakit katup jantung
  • Penyakit jantung bawaan
  • Penyakit aorta
  • Penyakit otot Jantung atau kardiomiopati
  • Tumor jantung
  • Gangguan irama jantung atau aritmia
  • Perikarditis
  • Serangan jantung
  • Gagal jantung
  • Henti Jantung

Kompetensi dokter spesialis jantung tidak hanya berkaitan dengan penyakit jantung, tetapi juga mencakup penyakit pembuluh darah secara umum, misalnya seperti varises, trombosis pembuluh darah, dan penyakit arteri perifer.

Tindakan yang Dilakukan Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah

Dalam melakukan diagnosis, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah akan menelusuri riwayat kesehatan pasien dan gejala yang dirasakan. Setelah itu, dokter akan melakukan fisik jantung emeriksaan untuk mengevaluasi apakah terdapat masalah pada jantung. Untuk memastikan diagnosis, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah sering kali menyarankan pemeriksaan penunjang, seperti elektrokardiogram (EKG), foto Rontgen, CT scan, MRI, angiografi, ekokardiogram, stress test, dan tes darah. Setelah diagnosis dipastikan, dokter spesialis jantung akan menentukan langkah penanganan untuk mengobati penyakit yang diderita pasien. Pengobatan dengan obat-obatan dan prosedur medis tertentu juga dibutuhkan sesuai hasil diagnosis.

Beberapa tindakan medis yang dapat dilakukan dokter spesialis jantung meliputi:

1. Kateterisasi jantung

Kateterisasi jantung merupakan prosedur yang dilakukan dengan cara memasukkan selang panjang atau kateter ke dalam pembuluh darah yang diarahkan ke jantung.

2. Angiografi

Angiografi adalah prosedur pemeriksaan dengan bantuan foto Rontgen untuk melihat kondisi pembuluh darah arteri dan vena.

3. Angioplasti

Angioplasti adalah prosedur medis yang dilakukan untuk memperbaiki aliran darah di arteri jantung yang tersumbat.

4. Implan alat pacu jantung dan ICD

Implan alat pacu jantung (pacemaker) dan ICD (implantable cardioverter defibrillator) merupakan prosedur pemasangan alat di dalam dada yang bertujuan untuk membantu jantung berdetak lebih teratur dan tidak terlalu lambat.

Waktu yang Tepat Memeriksakan Diri ke Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah

Penyakit jantung merupakan penyakit mematikan. Oleh karena itu, Anda disarankan untuk segera memeriksakan diri ke dokter spesialis jantung jika mengalami beberapa gejala berikut ini:

  • Nyeri dada yang menjalar hingga ke punggung, dagu, tenggorokan, atau lengan
  • Mual, pusing, dan lemas
  • Sesak napas
  • Berkeringat
  • Detak jantung tidak beraturan
  • Cepat lelah atau muncul keluhan sesak atau nyeri dada setelah melakukan aktivitas fisik, misalnya setelah naik tangga atau berolahraga

Tak hanya gejala di atas, Anda juga disarankan untuk memeriksakan diri jika memiliki faktor risiko, seperti obesitas dan diabetes.

Hal yang Perlu Disiapkan Sebelum Bertemu Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah

Sebelum bertemu dengan dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan untuk memudahkan dokter dalam menentukan perawatan yang tepat, seperti:

  • Buatlah catatan terkait riwayat keluhan dan gejala yang diderita secara detail. Jangan lupa untuk memberi tahu dokter bila terdapat riwayat penyakit jantung dalam keluarga.
  • Bawalah hasil pemeriksaan sebelumnya, seperti pemeriksaan darah, foto Rontgen, atau CT Scan, jika ada.
  • Bawalah atau infokan daftar obat yang rutin Anda konsumsi, termasuk vitamin dan suplemen.
  • Tanyakan pilihan perawatan yang tersedia dan tingkat keberhasilan serta risiko dari masing-masing perawatan.

Kebanyakan orang berpikir untuk menemui dokter spesialis jantung dan pembuluh darah hanya ketika mereka mengalami gejala. Padahal, rutin memeriksakan kesehatan jantung dan pembuluh darah penting untuk mendeteksi sejak dini penyakit yang diderita. Semakin cepat gejala penyakit jantung terdeteksi, semakin cepat pula penanganan dapat dilakukan. Dengan begitu, Anda pun terhindar dari risiko terjadinya komplikasi yang berbahaya. Oleh karena itu, jangan ragu untuk memeriksakan kesehatan jantung Anda secara rutin ke dokter. Selain itu, selalu terapkan pola hidup sehat dengan berolahraga secara rutin, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, tidak merokok, dan mencukupi waktu istirahat agar kesehatan jantung tetap terjaga.

Poliklinik Forensik

Dokter forensik termasuk dalam bidang ilmu kedokteran yaitu ilmu forensik. Ilmu forensik adalah ilmu kedokteran yang berkaitan dengan sistem peradilan pidana. Ilmuwan forensik memeriksa dan menganalisis bukti dari TKP dan di tempat lain untuk mengembangkan temuan objektif. Temuan ini bisa membantu dalam penyelidikan, menuntut pelaku kejahatan, hingga membantu membebaskan orang yang tidak bersalah.  Dokter forensik perlu memiliki kemampuan ilmiah dari bidang-bidang seperti kimia, biologi dan fisika. Ini dilakukan agar ia bisa mengenali, mengidentifikasi dan mengevaluasi bukti fisik selama penyelidikan. Mereka membantu pihak berwajib dalam pengumpulan bukti dan analisis mereka di laboratorium menggunakan berbagai teknik. Karena berhubungan dengan pengadilan, ahli forensik akan memerlukan keterampilan untuk menganalisis dan menangani bukti fisik dari TKP, menulis laporan, dan memberikan kesaksian di pengadilan.

Jenis Ilmu Forensik

Menurut tugasnya, ilmu forensik terbagi menjadi dua jenis umum, yaitu patologi forensik dan forensik klinik. Patologi forensik akan berfokus pada pemeriksaan jenazah kecelakaan. Dokter patologi forensik akan mendiagnosis korban dengan menyelidiki sampel bukti berdasarkan morfologi organ seperti:

  • DNA darah.
  • Pemeriksaan bukti jejak (rambut dan serat, cat dan polimer, kaca, tanah, dll.).
  • Pemeriksaan sidik jari.
  • Pemeriksaan senjata api dan peralatan.
  • Analisis tulisan tangan.

Sedangkan, diagnosis forensik klinik dilakukan pada orang yang masih hidup. Selain mempertimbangkan morfologi fisik, klinik forensik juga mempertimbangkan informasi fisiologis dan riwayat penyakit. Berbeda dengan patologi forensik, forensik klinik menangani pasien dengan kasus seperti pemerkosaan, penganiayaan, kehilangan organ, dan kekerasan pada anak.

Lalu, Apa Sebenarnya Tugas Dokter Forensik?

Ahli forensik akan melakukan beberapa pemeriksaan terhadap orang yang masih hidup maupun jenazah menurut tuntutan tertulis dari kepolisian atau instansi lain. Hasil pemeriksaan yang digunakan ini disebut dengan visum et repertum. Setiap ahli forensik akan memiliki metode dan teknik yang berbeda untuk menyelidiki materi yang berhubungan dengan kejahatan. Materi yang umumnya digunakan sebagai bahan penyelidikan dapat mencakup darah, rambut, serat pakaian, pecahan kaca, dan bekas ban.  Namun, secara umum, terdapat beberapa tugas yang dilakukan oleh ilmuwan forensik pada hari-hari biasa, seperti:

  • Menganalisis sampel cairan tubuh di laboratorium.
  • Menggunakan barang bukti yang beragam untuk menganalisis bukti. Ini termasuk teknik penyelidikan DNA dengan cara menggunakan sel kulit, darah, air liur atau akar rambut. Ini dilakukan untuk mengetahui siapa pemilik DNA atau kromatografi dengan cara memisahkan zat kimia menjadi bagian-bagian individu sehingga mereka dapat diteliti.
  • Mengunjungi langsung ke TKP dan mengumpulkan bukti.
  • Menganalisis tulisan tangan dan tinta.
  • Menyelidiki keberadaan senjata api dan peluru.
  • Meneliti dan mengembangkan teknologi dan teknik ilmu forensik baru.
  • Memberikan kesaksian berdasarkan bukti ilmiah di pengadilan.
  • Bekerja sama dengan kolega dan profesional lain seperti polisi.